
Hari ini aku ingin mengenang sehari menjelang detik2 kepergian maestro sastra Pramoedya Ananta toer 3 tahun lalu..
Pram.. tahukah engkau, pertama kali aku terjerat untaian kata2 membumimu adalah saat kubaca Percikan Revolusi subuh.
Entah kedalaman apa yg merasuki kepalanya, hingga bisa begitu menyentuh. Pram menggambarkan kepedihan tanpa perih.. Dia melukiskan tanpa bumbu tapi bulu kuduk tanpa sadar berdiri dan hati tersayat merasakan pedihnya. Untaiannya tidak rumit, sederhana tapi sarat makna yg terkandung. Aku pernah harus menghentikan membaca hanya untuk menarik nafas karena sesak. Hebat.. Belum lagi karyanya Bumi manusia dan Anak semua Bangsa. Piawai sekali kalimatnya menuntun kita pada detil peristiwa tanpa bertele- tele. Aku tak terlalu takjub bila karya itu keluar di kondisi jaman spt sekarang.Tapi bayangkan Pram hidup di masa dimana semua kebebasan di belenggu..
Aku tak peduli dia punya sisi gelap hingga salah satu award yg disandangnya di protes (dikroyok) sastrawan lain. Kalaupun Tudingan itu benar adanya, Kupikir melengkapi sisi manusianya. Bukankah setiap orang memiliki sisi gelap.. toh tidak mengurangi kemegahan karyanya. Toh negara2 lain di luar sana menghujaninya dengan berbagai award prestisius.Bahkan namanya di sentuh calon penerima nobel sastra ( dia bahkan menolak di nominasikan).
Detik ini aku bercumbu dengan kenangan pertama aku terpikat karyamu..
Selamat jalan sastrawan besarku..