Rabu, 06 Mei 2009

StRaTeGi "MeMbUnUh" ArTiS ArTiS KiTa




Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.

Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.

Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).

Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih "belajar" maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :)

Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.

Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.

Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.

Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.

Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:

- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.

- Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan "pembusukan". Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.

- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)

- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It's a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!

- Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo'on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari "kuli musikal."

Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.

Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).

Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.

Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming "fame & fortune" di industri musik. Padahal belum tentu bakal "booming" juga :)

Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.

Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!

Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi "popularitas maksimal dua atau tiga album saja!" Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.

Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan "easy come, easy go!"

Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It's not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.

Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.

Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai "label rekaman". Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya..... dan mereka cukup berhasil! Salute!

Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)

Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.

Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.


Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:

Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.

Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.

Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.

Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.

Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!

Hope we could make real changes together.

For better, not worst....


Tulisan ini datang dr email seorang sahabat media di Jakarta yg memintaku utk sebar luaskan..Kupikir ini patut direnungkan..

30 komentar:

  1. di cek dan di recek dulu kali ya say.

    BalasHapus
  2. Ini dah di berlakukan pa belon seh..???

    BalasHapus
  3. Ada kalanya bagus juga mba kalo ada Grup kek koil menggratiskan albumnya .....karena apa....kalo gebrakan mereka itu ternyata disambut antusias mau ga mau apabila albumnya bagus n disukai pendengarnya pasti mau ga mau mereka juga akan membeli albumnya.

    Itu menurut Opini saya ...setidaknya walau ga mendapatkan royalti tapi mereka mendapat nama...ga dapet kepala dapet ekornya jadilah....

    BalasHapus
  4. SDM Artis juga perlu ditingkatkan....

    Jangan hanya bisa nyanyi....
    Dan suka digosipin media kacangan yang hanya mengejar target.
    Seharusnya artis juga punya hak melindungi privasinya.

    BalasHapus
  5. bisnis panggung menjadi lebih semarak nantinya...

    BalasHapus
  6. Manufaktur band? Sungguh menyedihkan. jangan-jangan hanya jadi ajang daur ulang lagu atau bahkan yang parah: plagiat!

    BalasHapus
  7. IjoPunkJUtee masih demen INDIE sampe saat ini...., sampai nanti....ada label yang menawari..xixixixi....

    BalasHapus
  8. wedew ternyata yang carut marut ga cuman hasil pemilu tapi bagi hasil uang musik juga ya.

    hu um, saya setuju banget jika musikal kita mulai menyingkirkan major label, sekarang era digital...semua kebutuhan artis bisa dipenuhi jika mereka menguasai teknologi era digital a.k.a internet

    kalo ga salah jejak koil sudah diikuti oleh band indie "everybody love irene" dan mereka sukses kini!

    BalasHapus
  9. coba kalau manager sama artisnya memberlakukan sistem syariah :D

    BalasHapus
  10. waaah kelas berart nih, bingung mo ngomong apa...keknya opininya bener semua...

    BalasHapus
  11. ijin kopi paste tulisanmu disini http://titimatra.blogspot.com/2009/05/mata-hati-born-to-music.html

    BalasHapus
  12. Waaaaaaaahh...
    makasih banget nih mbak infonya. Jadi tau nih sekarang, ternyata kejahatan bukan hanya terjadi di jalan2 perkotaan, tapi juga ada di tempat2 yang nyaman.
    Hmmm...
    semoga manajer saya nanti tidak melakukan kecurangan. Halah...

    :D

    BalasHapus
  13. Tuntutan ingin ngetop dan kekayaan yang berlimpah kadang membuat kita buta. buta untuk melihat lebih dalam tentang sesuatu. Semoga ada solusi terbaik agar kreativitas para musisi kita bisa terus berkembang.
    Salam kenal

    BalasHapus
  14. setubuh mbak...
    dimana-mana koq orang berusaha merebut hak orang lain...., atau membodohinya demi keuntungan sepihak..

    BalasHapus
  15. (aduh, sampe capek bacanya, tapi menarik sih)
    gue baru tau kalo dibalik layar industri musik indonesia ada kayak gini, kirain nyaman2 aja..
    parah2

    BalasHapus
  16. itu yang disebut dengan konglomerasi industri musik.

    dari hulu sampai hilir dikuasai satu tangan.

    mungkin itu salah satu dari resiko yang harus diterima ketika seni khususnya musik menjadi industri.

    ukurannya bukan lagi kesenian, tapi profit...

    BalasHapus
  17. setuju, tapi ini indonesia dimana yang empunya uang bisa memonopoli segalanya dan saenak udel'e dewek jadi mau gimanana pun kita berkoar2 gak setuju, they still move on. huuuuu, dasar maruk yah, padahal harusnya bagi2 rezeki yah.

    BalasHapus
  18. Moga-moga komengku nyambung ya mbak
    pada saat awal mau rekaman sebelum mereka ngetop ya mau aja melakukan apa aja..
    dibodohin produser sampe ga dibayar sekalipun

    BalasHapus
  19. Selamat pagi,..

    Teruskan anganmu..
    Genggam harimu..

    BalasHapus
  20. Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat si pelaku,tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalaahhh.....Waspadalaahhhhhh....
    Nice post mbak. semangat terus.

    BalasHapus
  21. Etika bisnis sudah nggak ada lagi yaa....

    BalasHapus
  22. makasih untuk semangatnya...

    BalasHapus
  23. Hi Friend.. Interesting post.. Do keep up the good work.. Visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!

    BalasHapus
  24. If you turn on BBC, there are fair and equal coverage on the UK opposition parties.

    So is NHK (Japan), so is KBS (Korea), so is CNN (America), so is CBC (Canada), so is ABC (Australia).

    Even in our neighboring Thailand, their TV coverage is fair for both ruling and opposition parties!

    Only in this Umno hijacked country that you find most lop-sided idiotic coverage on Umno and its running dog partners!

    BalasHapus
  25. The Barisan government has achieved 0% in reversing the trend of racism.

    While South Africa has disbanded racism through the government's initiative after the global news onslaught, our government leaders are propagating FACISM and RACISM in every way.

    In term of racism, we are the most uncivilised country in the world. Look into our neighbouring countries of Asia, they are advancing economically on a straight forward objective, for their citizens.

    Whereas we are moving in deviationist path, widely off the international economic theory for the sole objective, of propelling the well being of a supreme race.

    Mahathir era is over, then we have Badawi. Is he changing the trend? Not a single sign of it.

    How about the future under Najib? Sad, sad. They have more camouflage in readiness.

    BalasHapus
  26. Yes, which Islamic country in the world today is strong in technology, R&D, literature, etc?

    The answer is a big NONE!

    Drop Islam and malays would be a better race!

    BalasHapus
  27. I think if Lee Kuan Yew is given a free reign to govern Malaysia for just a single term, Malaysia will double its GDP, poverty will be cut by 50%, corruption will spiral down and our jail will be filled with Tun, Tan Sri and Datuk.

    Of course it is just a dream but what a nightmare Malaysians are now suffering!

    BalasHapus
  28. If only the malays are a bit smarter, then BN won't win. The problem is malays are too damn stupid that they keep voting for BN. I don't know what poison BN gave to make them in this state.

    BalasHapus
  29. aduh panjang banget posting-nya sobat. Tapi jujur saya ikut prihatin. Tapi koq artisnya biasa-biasa aja ya...

    BalasHapus

mariiiiiiiii